Lensamandalika.com – Setelah Kepala Dinas Pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) provinsi NTB menuai polemik imbas menyebut jalan-jalan di Pulau Sumbawa sepi dan belum perlu diperbaiki, kini giliran Plt Sekretaris Daerah Provinsi NTB turut mendapat sorotan publik.

Pada potongan video yang ramai beredar di sosial media, Plt Sekda NTB, Lalu Muhammad Faozal menyebut akan mengerahkan siswi-siswi SMA/SMK di Kecamatan Pujut untuk menjadi penyemangat peserta Korpri Night Run yang akan diselenggarakan pada akhir pekan ini.

“SMA dari Kami. orang lari itu nambah lagi adrenalinnya kalau di hore-horekan. apalagi yang hore-hore itu anak-anak cewek, anak-anak gadis. Kami siapkan anak-anak SMA, anak-anak SMK yang di Kecamatan Pujut,” kata Faozal dikutip dari penggalan video konferensi pers Korpri Night Run yang diterima media ini.

Pada konferensi pers yang dilaksanakan di Ballroom kantor Bupati Lombok Tengah, Selasa (2/12/25) itu, Faozal juga akan menyiapkan surat resmi untuk mendorong kepala-kepala sekolah agar sisw-siswi tersebut bisa hadir.

“Nanti disiapkan surat resmi kepada kepala sekolahnya agar bisa hadir. tinggal ditetapkan saja tempat-tempatnya di rute-rute lari itu sehingga mereka bisa hadir,” imbuh Faozal.

Ucapan Sekda NTB itu lantas dipermasalahkan lantaran Faozal menyebut siswi-siswi SMK tersebut dengan sebutan anak-anak cewek atau anak-anak gadis untuk menjadi tim hore agar semakin memacu adrenaline pelari.

Pegiat sosial dan kemanusiaan, Lalu Debi Margadi Kusuma, yang lebih dikenal dengan Amak Ketujur menilai ucapan Sekda NTB tersebut tidak pantas diutarakan oleh pejabat publik, apalagi mewakili Pemerintah Provinsi yang menaungi sektor pendidikan tingkat SMA dan SMK.

“Sebagai warga Pujut, kami keberatan dengan pernyataan Sekda NTB itu, karena ini termasuk diskriminasi. Kalau murni sebagai penyemangat saja, maka tidak akan ada kalimat diskriminatif dengan menyebut cewek atau gadis SMA/K,” tegasnya melalui keterangan tertulis kepada media ini, Rabu (3/12/25)

Ia menilai pernyataan itu tidak hanya keliru dari sisi etika, namun juga berpotensi merendahkan martabat pelajar perempuan. Menurutnya, pejabat publik seharusnya memberi contoh mengenai penggunaan bahasa yang setara dan inklusif.

Sebagai orang tua, harusnya menyebut peserta didik itu setara, baik laki-laki maupun perempuan,” ujarnya.

Lebih jauh, Amak Ketujur menyebut pernyataan Sekda NTB tersebut mengandung bias gender yang berbahaya. Ia bahkan menilai ucapan itu tampak dipengaruhi naluri pribadi yang tidak semestinya disampaikan dalam konteks resmi.

“Saya beranggapan pernyataan ini dilandasi naluriahnya sebagai laki-laki yang suka lihat cewek muda dan cantik. Ini mengarah ke pelecehan seksual, dan merendahkan harkat martabat perempuan, serta menjadikan para siswi SMA/K sebagai objek yang bisa diobral hanya untuk kesenangan mereka,” kecamnya.

Ia menegaskan bahwa ucapan tersebut sangat tidak sesuai dengan posisi Sekda NTB sebagai bagian dari pemerintah yang seharusnya melindungi dan mendidik generasi muda. Terlebih, tidak ada unsur edukasi yang didapatkan siswi-siswi tersebut untuk sekedar menjadi tim hore pada event lari.

“Apakah KORPRI Fun night run itu pesertanya laki-laki semua, Sehingga butuh dihibur oleh gadis2 SMA/SMK, kenapa tidak sekalian panggil dancer-dancer kecimol itu saja. ini kan acaranya malam, terus Kalau ada peserta perempuan berarti butuh juga brondong-brondong SMA/K,” geramnya

Amak Ketujur meminta agar Sekda NTB memberikan klarifikasi dan permintaan maaf terbuka. Dirinya menilai langkah itu penting untuk menunjukkan tanggung jawab moral.

“Saya tunggu klarifikasi dan permohonan maaf Sekda NTB yang telah merendahkan gadis-gadis SMA dan SMK sekecamatan Pujut,” pungkasnya. (red/LM)