Opini oleh: Lalu Kesuma Jayadi (Mahasiswa Pascasarja Pendidikan IPA Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA))

Kisah Putri Mandalika pada mulanya hidup sebagai narasi kosmologis masyarakat pesisir selatan Lombok—sebuah cerita tentang pengorbanan, harmoni, dan upaya menghindari konflik sosial. Dalam konteks tradisional, legenda ini tidak berdiri sebagai hiburan, melainkan sebagai mekanisme budaya untuk menata relasi manusia dengan alam dan sesamanya.

Fenomena nyale dipahami bukan sekadar peristiwa biologis, tetapi bagian dari ritme ekologis yang disakralkan melalui cerita, sehingga masyarakat memiliki kalender ekologis, etika pemanfaatan alam, serta ikatan kolektif yang kuat. Mandalika, dalam makna awalnya, adalah simbol keseimbangan.

Namun dalam perkembangan kontemporer, makna tersebut mengalami pergeseran mendasar. Nama Mandalika kini hadir sebagai identitas Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), destinasi wisata global, dan label pembangunan infrastruktur berskala besar. Terjadi transformasi dari simbol kosmologis menjadi merek ekonomi.

Dalam kajian kritis pembangunan, ini dapat dibaca sebagai bentuk komodifikasi budaya, ketika mitos, lanskap, dan tradisi diolah menjadi nilai jual. Ritual nyale berubah fungsi dari peristiwa sakral komunal menjadi agenda pariwisata, sementara ruang pesisir yang dahulu dimaknai sebagai ruang hidup kini diposisikan sebagai aset investasi.

Pembalikan makna ini menghadirkan ironi historis. Dalam legenda, Mandalika mengorbankan dirinya demi mencegah perang dan menyelamatkan rakyat. Dalam realitas pembangunan, justru muncul potensi konflik baru: pergeseran akses ruang, tekanan terhadap masyarakat lokal, serta perubahan struktur penguasaan lahan.

Nama Mandalika tetap diagungkan, tetapi makna sosialnya bisa terlepas dari konteks rakyat yang dahulu menjadi pusat cerita. Di sini terjadi apa yang dalam analisis sosial disebut displacement simbolik—simbol budaya dipertahankan, sementara subjek sosialnya berisiko terpinggirkan.

Karena itu, pendekatan kritis terhadap legenda Mandalika bukanlah bentuk penolakan budaya, melainkan upaya mengembalikan kedalaman maknanya. Mitos perlu dibaca sebagai arsip pengetahuan ekologis dan sosial, bukan sekadar ornamen legitimasi pembangunan. Jika tidak, yang tersisa hanyalah nama yang sakral di papan proyek, sementara ruh harmoni yang dahulu dikandung legenda perlahan memudar.

Tantangannya hari ini bukan memilih antara budaya atau pembangunan, melainkan memastikan bahwa pembangunan tidak mengosongkan makna budaya yang dipakainya.