Lensamandalika.com – Hari pertama masuk sekolah pada bulan Ramadan di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (23/2/26) diwarnai keluhan dari orang tua siswa terkait menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mereka menilai makanan yang diterima siswa tidak mencerminkan anggaran yang telah ditetapkan pemerintah dan hanya menguntungkan mitra pemilik dapur MBG.
Program MBG menetapkan anggaran sebesar Rp8.000 per porsi untuk siswa SD kelas I hingga III, serta Rp10.000 per porsi untuk siswa SD kelas IV hingga SMA.
Namun, sejumlah orang tua menilai makanan yang diterima siswa jika dihitung dari komposisi menu masih berada di bawah nominal tersebut. Padahal, pemerintah telah menetapkan anggaran untuk makanan dan operasional serta biaya sewa dapur dipisah.
Keluhan ini muncul di berbagai daerah dan menjadi perbincangan di lingkungan sekolah maupun media sosial. Orang tua mempertanyakan transparansi penggunaan anggaran serta kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.
Harapan Evaluasi dan Transparansi
Meski demikian, keluhan dari orang tua di NTB menunjukkan perlunya pengawasan dan evaluasi berkelanjutan terhadap pelaksanaan program di lapangan.
Pemerhati dan pegiat media sosial, Herlan Adiwijaya, menilai keluhan orang tua tidak boleh dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap program, melainkan sebagai kontrol sosial yang sehat dalam negara demokrasi.
“Ketika orang tua mempertanyakan kualitas menu, itu bukan berarti menolak programnya. Itu justru bentuk kepedulian. Pemerintah harus melihat ini sebagai masukan konstruktif,” katanya ketika dikonfirmasi, Senin (23/2/26).
Ia juga menegaskan, jika memang ditemukan mitra yang tidak menjalankan program sesuai ketentuan, maka langkah tegas perlu diambil demi menjaga kredibilitas kebijakan.
“Jangan sampai niat baik pemerintah tercoreng oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Jika ada mitra yang terbukti menyimpang, evaluasi menyeluruh bahkan penghentian kerja sama harus menjadi opsi. Ketegasan penting agar program ini tetap dipercaya masyarakat,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mitra pelaksana, terutama jika ditemukan indikasi ketidaksesuaian antara anggaran dan kualitas makanan yang diberikan.
“Kami berharap pemerintah tidak ragu melakukan evaluasi secara serius. Jika memang ditemukan mitra yang tidak menjalankan amanah dengan baik, maka sudah sepatutnya diberikan sanksi tegas, bahkan bila perlu dihentikan. Ini penting agar program ini tidak kehilangan kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.
BGN Jelaskan Pembagian Anggaran MBG
Menanggapi berbagai persepsi di masyarakat, Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya telah menjelaskan rincian penggunaan anggaran dalam program MBG.
Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, beberapa waktu lalu mengatakan, dari total anggaran Rp15.000 per anak, tidak seluruhnya digunakan untuk bahan makanan. Sebagian dialokasikan untuk kebutuhan operasional dan investasi dapur.
“Nah, ini yang masuk ke mitra, tapi dalam bentuk sewa. Kan bukan keuntungan, kan mitra ini investasi. Investasi kalau Rp 1 miliar yang luasnya kira-kira dapurnya itu 400 meter itu sampai peralatannya itu Rp 3-4 miliar,” ujar Nanik dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (26/9/2025) dikutip dari detikcom.
Ia menjelaskan, sekitar Rp2.000 dialokasikan untuk komponen sewa, termasuk sewa gedung, tanah, peralatan, dan perlengkapan distribusi. Sementara Rp3.000 digunakan untuk biaya operasional seperti gaji karyawan, listrik, internet, bahan bakar, dan transportasi.
Dengan demikian, sisa Rp10.000 digunakan sepenuhnya untuk bahan baku makanan.
“Kan ada orang, paling itu dibelanjakan itu hanya Rp 7.000-Rp 8.000 makanya menunya nggak bagus. Salah, ini karena memang kebanyakan itu yang tadi yang anak-anak yang baru ini karena takut belanja lebih, sehingga dia ngepasin,” jelasnya.
Menurut Nanik, dalam praktiknya, pengeluaran bahan makanan tidak selalu sama setiap hari. Ada hari tertentu di mana biaya lebih besar, misalnya saat menu dilengkapi susu atau protein tambahan.
“Misalnya di hari ini dia belanja Rp 8.000, tapi nanti di hari Jumat atau Kamis ini bisa lebih karena makanya kalau belanja terus, dikasih susu terus, duitnya nggak cukup. Jadi dia akan dipaskan kira-kira hari Rabu satu kali susu dengan hari Jumat satu kali susu,” tambahnya. (red/lM)