Lensamandalika.com – Bocah penjual gelang di Kuta Mandalika dan sekitarnya menjadi fenomena yang belakangan ini kembali disoroti wisatawn. Keberedaan mereka yang dinilai kerap menggangu membuat wisatawan khususnya wisatawan mancanegara risih.

Usia mereka yang seharusnya menikmati belajar dan waktu bermainnya, malah digunakan untuk berjualan gelang sejak sepulang sekolah, bahkan hingga larut malam.

Hal tersebut bukan mengada-ngada. Terbaru, unggahan pengguna media sosial facebook membagikan video yang memperlihatkan seorang bocah penjual gelang yang tengah menangis karena ditinggal orang tuanya, Sabtu (9/8/25) malam.

Anak tersebut dikerubungi banyak orang seolah terlantar, menunggu jemputan orang tuanya yang tak kunjung datang. Sementara malam telah semakin pekat dan sudah waktunya istirahat.

Belakangan, video itu telah dihapus oleh pengunggahnya karena mendapat intimidasi dari keluarga bocah tersebut yang tidak terima anak mereka diviralkan dan mendapat berbagai macam komentar di media sosial.

Ketua Masyarakat Sadar Wisata Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Sandika Irwan angkat bicara perihal kejadian tersebut. Menurutnya, sangat kurang bijak dengan alasan apapun meminta anak agar berjualan gelang sampai tengah malam di kawasan wisata mandalika.

“Apapun alasannya, memaksa, menyuruh, mengiba, memohon, memotivasi anak agar berjualan kurang bijak dan kurang baik bagi si Anak yang masih dalam usia sekolah,” ungkapnya ketika dkonfirmasi Lensa Mandalika, Ahad (10/8/25).

Menurut Sandy, sapaan akrabnya, sangat penting adanya kepedulian sesama pelaku pariwisata untuk mengawasi praktek serupa agar tidak terus terjadi di kemudian hari.

“Anak-anak itu (bocah pedagang gelang, red) masih dalam tahap dinafkahi kebutuhan dasarnya, bukan mencari nafkah untuk mewakili ibu bapaknya,” tegasnya.

Kejadian serupa sempat viral beberapa waktu yang lalu. Seorang wisatawan mancanegara, Roland Frytag, menyuarakan keprihatinannya terhadap fenomena anak-anak penjual gelang yang lebih mirip aktifitas meminta-minta di kawasan Kuta Mandalika.

Melalui sebuah unggahan di grup Facebook Loving Living Kuta Lombok Expat pada 28 Juli 2025 lalu, Roland menceritakan pengalamannya menyaksikan sekelompok anak yang berdiri di depan sebuah minimarket dan meminta beras, minyak goreng, cokelat, atau barang lainnya kepada wisatawan.

Dalam tulisannya, Roland mengaku miris melihat pola interaksi yang menurutnya sudah bergeser menjadi “jual beli belas kasihan.” Diceritakannya, dalam waktu dua jam, ia melihat kelompok anak yang sama terus berada di lokasi tersebut dan menerima pemberian dari wisatawan hingga lima kali.

“Dalam dua jam itu, mereka mendapat beras, minyak, dan barang lainnya. Anak-anak ini bisa membawa pulang lima kali lipat lebih banyak dari penghasilan orang tua mereka yang bekerja,” tulisnya. (unggahan tersebut dalam Bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia).

Roland menduga kondisi ini akibat sebagian orang tua menyuruh anak-anak mereka “mengemis” atau memanfaatkan citra kemiskinan demi mendapatkan simpati wisatawan. Ia menambahkan, sasaran mereka tidak hanya wisatawan mancanegara, tetapi juga wisatawan domestik maupun lokal.

Melalui unggahannya, Roland mengimbau para turis untuk lebih bijak dalam memberikan bantuan. Ia khawatir, jika dibiarkan, praktik ini akan terus berkembang dan berdampak buruk pada mentalitas anak-anak maupun citra pariwisata di kawasan Mandalika.

“Tolong pikirkan dulu sebelum memberi. Jika ingin membantu, lebih baik berikan pelajaran bahasa atau keterampilan yang bermanfaat,” ujarnya.

Menanggapi sejumlah komentar yang menyebut anak-anak tersebut berasal dari Kampung Adat Sade, warga Sade, Alfian Darmawan, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa tidak ada warga Dusun Adat Sade yang berjualan atau meminta-minta di Kuta.

“Kami sangat sibuk di Sade. Setiap hari ribuan wisatawan datang untuk melihat budaya dan aktivitas kami, sehingga tidak ada waktu untuk ke Kuta untuk berjualan apalagi meminta-minta,” jelas Alfian.

Menurutnya, jika ada yang menyebut nama Rembitan, hal itu pun tidak sepenuhnya benar karena wilayah Rembitan terdiri dari lebih dari 20 dusun.

“Sade adalah salah satu dusun di Rembitan, dan memang lebih terkenal daripada Rembitan itu sendiri. Karena itulah banyak orang mengaku berasal dari Sade, padahal sebenarnya bukan,” pungkasnya. (red/lm)