Lensamandalika.com – Gelaran MotoGP Mandalika telah memasuki hari kedua, Sabtu (4/10/25). Pergerakan penonton diprediksi akan memadati Sirkuit Mandalika pada siang nanti menjelang Sprint Race MotoGP pada pukul 15.00 WITA.

Warga lokal di Desa-desa lingkar Sirkuit Mandalika tak ketinggalan ingin menonton balap motor kasta tertinggi dunia itu. Namun, tiket gratis yang sebelumnya dijanjikan tak kunjung sampai di tangan.

Mengutip Suara NTB, Direktur Operasi Injourney Tourism Development Corporation (ITDC) Troy R. Warokka diketahui sempat menjanjikan sejumlah tiket gratis untuk menonton MotoGP Mandalika.

Tiket gratis tersebut, menurut Troy akan disalurkan melalui pemerintah daerah dan stakeholder terkait. Penyiapan tiket gratis tersebut sebagai wujud apresiasi kepada masyarakat lingkar kawasan The Mandalika yang selama ini telah banyak memberikan dukungan dan turut menjaga keamanan dan ketertiban wilayah.

“Untuk alokasi tiket gratisnya nanti akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi. Namun sebelum itu kita akan koordinasikan dengan pemerintah daerah setempat. Untuk memastikan jumlah dan pola penyalurannya. Setiap tahun tiket gratis ini wajib kita siapkan,” ujar troy mengutip Suara NTB yang dimuat pada 1 Oktober 2025 lalu.

Namun demikian, tiket gratis tersebut nyatanya belum diterima hingga hari kedua gelaran MotoGP Mandalika. Diungkapkan tokoh muda Desa Sengkol, Mavi Adieq Garlosa, tidak adanya tiket yang dijanjikan kembali membuat warga tempatan menjadi penonton dari jauh di tanah mereka sendiri.

“Kalau begini kan PHP namanya. Realitas di lapangan, tiket justru lebih mudah diakses investor, pejabat, dan tamu-tamu VIP. Warga lokal? Lagi-lagi terpinggirkan,” ungkapnya melalui keterangan tertulis yang diterima Lensa Mandalika Sabtu (4/10/25).

Fenomena tersebut menurut Mavi, mencerminkan betapa pemerintah daerah tidak cukup tegas memperjuangkan hak masyarakat.

“Gubernur Miq Iqbal seakan larut dalam tradisi Betabeq, berbicara hangat, menjanjikan harmoni, namun ketika menyangkut kepentingan nyata rakyat lingkar sirkuit, pemerintah terlihat hanya menyuguhi janji tanpa eksekusi,” tegasnya.

Janji tiket gratis, kata Mavi semestinya bukan sekadar kompensasi simbolis, melainkan bentuk pengakuan atas pengorbanan dan kontribusi rakyat. Namun, kenyataan tiket gratis tersebut menurutnya hanya dalam wacana, selebihnya rakyat kembali jadi korban janji palsu.

“Kalau memang tidak ada (tiket gratis), jangan umbar-umbar janji. ini sebenarnya warning khususnya buat ITDC agar hati-hati dalam bernarasi,” ungkapnya.

Senada dengan Mavi, ketua solidaritas warga inter mandalika (SWIM), Lalu Alamin pun tidak tahu menahu mengenai tiket gratis yang sempat dijanjikan ITDC itu.

“Nagihnya warga ini karena pernyataan Troy yang dimuat di media soal adanya tiket gratis ini. Benang kusutnya adalah, apakah memang benar Troy mengatakan itu, atau jurnalis salah interpretasi. Nggak masuk akal juga kan semua warga mau digratiskan masuk sirkuit,” terangnya ketika dikonfirmasi Lensa Mandalika.

Dari konfirmasinya kepada pihak ITDC, Lalu Alamin mengatakan bahwa tiket gratis itu akan ada namun tidak diperuntukkan untuk seluruh warga, melainkan sudah ada listnya tersendiri di ITDC.

“Tradisi pembagian tiket gratis itu memang dari dulu ada, namun tidak untuk semua warga, namun terbatas untuk para tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh adat sebagai bentuk jalinan komunikasi dan silutrrahminya,” terangnya.

“Secara logika, tidak mungkin kita diberikan untuk seluruh warga, kapasitas sirkuit juga tidak cukup. Mari berlapang dada, Semoga kedepan ada kesempatan lebih luas untuk menikmati dan memeriahkan ajang MotoGP yang menjadi kebanggaan kita di Lombok Selatan,” pungkasnya. (red/LMeds)