Lensamandalika.com – Sekolah Adat Rengganis resmi meluncurkan buku Olek Bale dalam sebuah acara sederhana nan sarat makna, Sabtu (29/11/25), di Sekolah Adat Rengganis, Dusun Pogam, Desa Sukadana, Kecamatan Pujut. Buku ini lahir dari kerja kolektif masyarakat adat untuk merawat warisan leluhur melalui jalur literasi.
Peluncuran buku tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Lombok Tengah, Kabid Pembinaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Nusa Tenggara Barat, Budayawan, Tokoh Adat, Ketua harian pengurus daerah Alinasi Masyarakat Adat Nusantara, Step West Foundation, dan masyarakat setempat.
Pendiri Sekolah Adat Rengganis, Juanda Pramadani, menyampaikan bahwa terbitnya buku Olek Bale menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak menghalangi lahirnya karya penting bagi pelestarian budaya.
“Sekolah Adat Rengganis dengan segala keterbatasan bisa melahirkan buku Olek Bale. Maka dengan dukungan pemerintah yang lebih besar, insyaallah kita bisa mewujudkan hal yang lebih dari ini,” ungkapnya.
Juanda menegaskan, di tengah rendahnya minat baca dan keterbatasan literasi masyarakat, karya ini diharapkan menjadi pijakan kuat untuk menjaga warisan leluhur.
“Ini adalah bagian dari budaya yang harus dilestarikan,” ujarnya.
Penyusunan buku adat bahasa Ibu Olek Bale ini kedepan akan terus disusun dan dilengkapi dengan khazanah-khazanah kebudayaan lainnya yang dimiliki Suku Sasak seperti permainan tradisional, berabagai upcara, kerajinan dan karya seni, hingga kuliner tradisional.
“Untuk bahasan pertama adalah 3 khazanah budaya utama yakni Mangse, Betandak, dan Ngatar Bumi. Kedepan insyaallah akan kita lengkapi lagi dengan berbagai khazanah budaya Sasak lainnya yang sangat kaya,” pungkasnya.
Kepala Desa Sukadana, Syukur, menekankan filosofi mendalam dari konsep Olek Bale. Menurutnya, Olek Bale adalah pola pikir orang Sasak ketika keluar menuntut ilmu, melihat dunia, lalu kembali pulang untuk mengamalkan ilmu tersebut.
“Olek Bale itu lebih tinggi daripada sekadar ilmu. Ada nilai peradaban di dalamnya,” kata Syukur.
Ia juga menyampaikan bahwa Desa Sukadana tengah membangun gedung perpustakaan sebagai upaya meningkatkan literasi warga.
“Kami mohon bantuan dan dukungan agar masyarakat bisa terus meningkatkan pengetahuannya, karena ilmu itu penting untuk mengubah kehidupan kita,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lalu Sungkul, menilai buku Olek Bale sebagai terobosan penting untuk penguatan identitas budaya Sasak. Ia menyebut Juanda sebagai Srikandi yang konsisten melahirkan inovasi pelestarian adat.
“Peluncuran buku ini adalah momentum baru. Maknanya sederhana namun dalam: Olek Bale adalah ajakan untuk kembali pada jati diri Sasak. Dalam buku ini ada gambar adab dan tatakrama sebagai visualisasi identitas kita. Back to our selves,” ungkapnya.
Ia juga mengaitkan pentingnya pelestarian budaya dengan sektor pariwisata. Menurutnya, wisatawan datang karena tiga alasan: budaya, sejarah, dan teknologi.
“Kalau dibandingkan dengan Singapura, mereka tidak punya budaya atau sejarah, tapi memiliki teknologi. Kita punya budaya, maka jangan sampai kehilangan jati diri, orang luar akan berbondong-bondong datang untuk mempelajari itu,” ujarnya.
Lalu Sungkul juga mendorong kolaborasi antara desa adat, masyarakat, dan pelaku usaha. Ia menyarankan adanya surat resmi kepada para pemilik villa yang ada di wilayah Desa Sukadana agar mengalokasikan program CSR untuk pengembangan Sekolah Adat Rengganis.
“Ajak juga para manajernya agar mereka turut memberikan nuansa. Jangan saya yang minta, nanti dikira pungli,” selorohnya.
Ia menutup dengan memberikan apresiasi yang setinggi-tinggi kepada para kontributor penyusun buku adat Bahasa Ibu Olek Bale, termasuk pada narasumber yang telah menuangkan khazanah pengetahuannya dalam penyusunan buku tersebut.
“Penghargaan setinggi-tingginya kepada dinda Juanda dan tim penyusun yang telah berjuang hingga sampai pada titik ini.” pungkasnya.
Acara peluncuran buku Olek Bale juga menghadirkan sesi talkshow bersama Kepala Dinas Perpustakaan Lombok Tengah, Lalu Muliawan yang menegaskan pentingnya literasi berbasis budaya lokal sebagai fondasi pembangunan masyarakat.
Dirinya berkomitmen untuk menghubungkan pihak Sekolah Adat Rengganis dengan percetakan dan membantu penyebaran buku-buku tersebut ke sekolah-sekolah yang ada di Lombok Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Peluncuran ini diharapkan menjadi awal dari upaya lebih besar untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Sasak melalui buku, pendidikan adat, dan gerakan literasi desa. Buku Olek Bale kini menjadi simbol bahwa jati diri dapat dijaga dan diwariskan, meski lahir dari tempat dengan segala keterbatasannya. (red/lm)