Lensamandalika.com – Jalan kabupaten ruas Pengembur-Mawun yang menghubungkan Desa Pengembur, Krame Jati, dan Tumpak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, mengalami kerusakan parah meski baru satu bulan dibangun.
Proyek jalan sepanjang total lima kilometer dengan nilai anggaran mencapai Rp11 miliar itu kini setengahnya dipenuhi lumpur yang mengeras serta retakan di sejumlah titik.
Melihat video yang diterima media ini, kondisi jalan tampak memprihatinkan. Endapan lumpur yang mengeras menutupi badan jalan, sementara bagian pinggirnya terlihat retak. Kerusakan ini terjadi, bahkan sebelum pengerjaan rabat dan talud rampung seluruhnya.
Seorang sumber yang mengetahui persoalan ini, namun meminta identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan bahwa kerusakan terjadi akibat intensitas kendaraan bermuatan berat yang keluar masuk lokasi galian C di Desa Krame Jati. Padahal, jalan tersebut belum layak dilalui truk berkapasitas besar.
“Bayangkan, jalan yang diperjuangkan masyarakat bertahun-tahun, dalam seminggu sudah rusak karena satu orang yang membuka tambang galian C,” ujarnya.
Ia menjelaskan, aktivitas pengangkutan tanah dari lokasi galian C berlangsung hampir setiap hari menggunakan puluhan dump truck.
Informasi yang diterima media ini menyebutkan, sedikitnya 2.500 truk diperlukan untuk menimbun sebuah proyek di sekitar bypass Bandara Internasional Lombok BIL).
Akibatnya, sekitar 2,5 kilometer dari ruas jalan yang baru dibangun kini terdampak dan sulit dibersihkan.
“Aspalnya kalah sama tebalnya lumpur. Di beberapa titik itu bukan jalan lagi yang terlihat, tapi lapisan tanah yang menempel dan mengeras,” tambahnya.
Sumber yang sama menilai aktivitas galian C tersebut harus segera dihentikan. Ia mempertanyakan bagaimana izin dan kajian lingkungan (amdal) bisa terbit apabila pada praktiknya justru merusak fasilitas publik yang bertahun-tahun sangat diidamkan masyarakat.
“Harapan kami, pemerintah kabupaten segera menutup aktivitas galian C ini. Izin harus dicabut. Bagaimana amdal bisa lolos kalau ternyata fasilitas umum rusak seperti ini?” tegasnya.
Ia juga menyayangkan sikap sebagian tokoh masyarakat serta pihak berwenang yang dinilai tidak peka terhadap kerusakan tersebut. Menurutnya, diamnya berbagai pihak justru memperparah keadaan dan memberikan ruang bagi aktivitas destruktif berlangsung tanpa kontrol.
“Para tokoh dan pihak berwenang seperti tidak merasa dirugikan. Kalau begini terus, saya tidak akan menyarankan ada pengerjaan ulang di ruas ini. Untuk apa dibangun kalau dibiarkan rusak lagi?” pungkasnya. (red/LM)