Lensamandalika.com – Ajang peresean sebagai rangkaian dari Bau Nyale 2026 di kawasan Mandalika tak hanya memantik antusias warga lokal.
Sejumlah wisatawan asing yang tengah berlibur di Lombok tak mau ketinggalan mencoba adu ketangkasan di arena seni bela diri suku sasak itu.
Pengamatan Lensa Mandalika, tahun ini menjadi event peresean dengan partisipasi wisatawan asing terbanyak.
Salah satunya adalah wisatawan asing yang menginap di Kuara Resort Lombok. Bersama karyawan resort tempatnya menginap, bule asal Belanda itu mantap ikut tanding peresean.
Selayaknya pepadu (sebutan untuk kontestan peresean, red) pada umumnya, bule tersebut juga mengenakan kain selewoq (sarung tradisional, red) khas Lombok, lengkap dengan sapuq (ikat kepala, red).
Mereka dengan mantap menggenggam senjata berupa tongkat penyalin (rotan, red) dan ende (perisai, red) yang terbuat kulit kerbau.
Operational manager Kuara Lombok Resort, Rata Wijaya membenarkan salah satu tamunya ikut bertanding peresean. Dirinya bahkan mengantar langsung sang tamu ke arena peresean.
Dikatakannya, tagline Kuara Lombok adalah ‘experience the soul of Lombok’, menyambung konsep experience based resort dengan mengangkat ‘KeSasak-an’ sebagai branding inti.
“Kalau sekedar berkunjung, feeling tidak akan 100%, untuk dapat menjiwainya, ya harus dicoba, terlibat dalam aktifitas masyarakat kita termasuk peresean ini salah satunya,” jelasnya kepada Lensa Mandalika, Sabtu (7/2/26).
Ia menegaskan, pengalaman yang ditawarkan Kuara Lombok Resort tidak berhenti pada fasilitas dan layanan menginap semata, melainkan keterlibatan langsung dalam kehidupan dan budaya lokal.
“Yang kami jual bukan hanya kamar atau pemandangan, tapi pengalaman. Ketika tamu ikut terlibat, berinteraksi, bahkan berani mencoba tradisi seperti peresean, di situlah mereka benar-benar merasakan jiwa Lombok,” ujarnya.
“Dengan terlibat langsung, tamu akan merasakan makna Lombok secara lebih utuh,” imbuhnya.
Rata menambahkan, pengalaman semacam itu akan membangun ikatan emosional antara tamu dan Lombok. Ikatan tersebut diharapkan membekas dalam ingatan.
“Bekas pukulan penyalin yang didapatkan ketika bertanding peresean bisa menjadi pengalaman autentik yang sulit dilupakan,” pungkasnya. (red/lm)