LOMBOK TENGAH — Puskesmas Kuta terus melakukan pembenahan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Hal tersebut tercermin dari hasil Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) yang mengalami peningkatan dari 83,28 persen pada 2025 menjadi 87,76 persen pada 2026.Peningkatan tersebut disampaikan Kepala Puskesmas Kuta, Zainal Abidin, dalam Forum Komunikasi Publik Puskesmas Kuta yang digelar di Aula Puskesmas Kuta, Senin (24/8/2026).
Forum tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus komunikasi antara Puskesmas Kuta dengan masyarakat dan lintas sektor, termasuk pemerintah desa dan pihak sekolah. Sejumlah isu dibahas, mulai dari hasil SKM, pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG), deteksi dini penyakit menular, hingga strategi peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
Zainal mengatakan, kenaikan nilai SKM menjadi 87,76 persen menunjukkan adanya perbaikan terhadap sejumlah aspek pelayanan yang menjadi perhatian masyarakat.
“Pada 2025 nilai SKM kita 83,28 persen dan pada 2026 meningkat menjadi 87,76 persen. Artinya, aspirasi masyarakat yang kami terima dalam upaya meningkatkan kepuasan pelayanan terus kami tindak lanjuti,” ujarnya.
Menurutnya, sejumlah pembenahan telah dilakukan, di antaranya peningkatan kebersihan lingkungan puskesmas, perbaikan akses internet, serta optimalisasi penggunaan aplikasi dalam pelayanan.
“Sekarang internet sudah bisa diakses dengan lebih cepat. Kami juga mengoptimalkan aplikasi sehingga masyarakat tidak lagi harus membawa banyak kertas atau dokumen. Kita mulai menerapkan pelayanan yang lebih paperless,” jelasnya.
Selain pembenahan sarana dan sistem pelayanan, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Zainal menegaskan seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas Kuta terus didorong memberikan pelayanan secara optimal, baik di dalam gedung maupun melalui pelayanan lapangan.
Perkuat Deteksi Dini Penyakit Menular
Di tengah peningkatan kepuasan masyarakat, Puskesmas Kuta masih menghadapi sejumlah tantangan kesehatan, terutama terkait penyakit menular seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), tuberkulosis (TBC) hingga jangkauan imunisasi.
Zainal mengatakan, Puskesmas Kuta telah memiliki mekanisme pelayanan khusus dalam menangani kasus ISPA, termasuk melalui pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) bagi kelompok yang membutuhkan.
“Untuk ISPA, kami memiliki mekanisme pelayanan yang spesifik dan terstruktur melalui MTBS. Dengan begitu, komplikasi maupun potensi penyakit menjadi lebih parah dapat dideteksi dan ditangani lebih dini,” katanya.
Sementara untuk penanganan TBC, Puskesmas Kuta mengutamakan proses tracing terhadap orang-orang yang memiliki kontak dengan pasien.
“Untuk TBC, kami mulai dari tracing, baik kontak serumah maupun kontak erat. Ini kami lakukan untuk meminimalisasi kemungkinan penularan kepada anggota keluarga maupun orang-orang di sekitarnya,” jelas Zainal.
Upaya deteksi dini juga terus diperkuat melalui keterlibatan pemerintah desa, sekolah, kader kesehatan, serta berbagai pemangku kepentingan di wilayah kerja Puskesmas Kuta.Selain penyakit menular, cakupan imunisasi juga masih menjadi perhatian.
Zainal mengakui masih terdapat sebagian masyarakat yang menolak imunisasi. Namun, pihaknya tidak berhenti melakukan pendekatan. Edukasi dan sosialisasi dilakukan secara langsung kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya imunisasi dalam mencegah berbagai penyakit.
“Memang masih ada masyarakat yang menolak imunisasi. Tetapi kami terus melakukan pendekatan dan sosialisasi. Saya sendiri turun langsung untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat karena imunisasi merupakan hal yang sangat penting,” ujarnya.
Ke depan, Puskesmas Kuta akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, termasuk operator desa dalam pemanfaatan sistem informasi sosial untuk memastikan masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh akses terhadap berbagai program pelayanan dan bantuan.
Zainal mengatakan koordinasi juga dilakukan untuk mengaktivasi penerima manfaat dari kelompok desil 1 hingga desil 4, sehingga masyarakat yang masuk dalam kelompok tersebut dapat memperoleh akses layanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Puskesmas Kuta menilai peningkatan kualitas kesehatan masyarakat tidak dapat dilakukan sendiri. Karena itu, forum komunikasi publik menjadi penting untuk memperkuat kolaborasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah desa, masyarakat, dan sektor swasta.
Dukungan juga datang dari berbagai stakeholder, termasuk ITDC, yang turut berkontribusi melalui pemberian susu tambahan tinggi kalsium sebagai bagian dari dukungan terhadap pemenuhan gizi masyarakat.
Zainal menegaskan, peningkatan nilai SKM bukan menjadi alasan untuk berhenti berbenah. Sebaliknya, capaian tersebut menjadi motivasi bagi Puskesmas Kuta untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan. Red/asn