Lensamandalika.com – Seorang bocah bernama Paris (laki-laki, 10 tahun), Kamis (6/1/2022) akhirnya kembali ke pangkuan keluarganya di Dusun Selak, Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, NTB setelah menghilang selama dua tahun.
Mengutip berbagai sumber, Paris diketahui hilang sejak pertengahan tahun 2020. Keluarga sempat melakukan pencarian hingga akhir tahun 2020 namun nihil hasil, hingga sebuah keajaiban terjadi dan Paris ditemukan bersama seorang rekannya di kawasan Mandalika dan akhirnya bisa pulang ke keluarganya di Praya Timur.
Berdasarkan keterangan yang didapat Lensa Mandalika dari kerabat dekatnya, Paris dibawa ke Jawa oleh seorang warga setempat yakni Narap yang diketahui memiliki gangguan kejiwaan. Narap diketahui tinggal di dusun yang berbeda dengan Paris yaitu Dusun Ngempang, Desa Kidang yang jaraknya lumayan jauh.
“Paris dibawa ke Jawa sejak Musim mako tahun 2020. Kami tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di Jawa. Tapi kabarnya, dia menetap di rumah ibu angkatnya hingga Idul Fitri tahun 2021,” kata Riana Lestari kepada Lensa Mandalika, Jumat (7/1/2022) yang dikonfirmasi melalui pesan whatsapp.
Setelah Idul Fitri, kata Riana, Narap kabur dari rumah ibu angkatnya itu dan berpindah-pindah hingga akhirnya ditemukan di Bali oleh Mery dan suaminya yang merupakan warga Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.
Mery yang dihubungi Lensa Mandalika melalui sambungan telepon menceritakan bahwa dia dan suaminya berada di Bali karena sang suami merupakan pengemudi truck Fuso. Diceritakannya, Selasa (4/1/2022) dia dan suaminya tengah mampir istirahat di rest area Bypass Ida Bagus Mantra.
“Kami parkir di rest area itu, lantas suami saya pergi membeli kopi, saya juga membeli beberapa jajanan untuk bekal di perjalanan” tuturnya.
Sebelum bertemu dengan Paris dan rekannya itu, Mery mengatakan bahwa suaminya mendapatkan tiga penumpang asal Lombok Timur yang juga hendak menyebrang ke Lombok.
“Yang tiga itu langsung naik ke truck menunggu waktu berangkat karena kopi suami saya belum habis,” katanya.
Setelah dirinya membayar belanjaan dan hendak melanjutkan perjalanan, tetiba dia dan suaminya melihat Paris dan rekannya di dekat truck miliknya dengan membawa tiga buah tas berisi pakaian.
“Seseorang kemudian menyarankan saya untuk membawa anak ini ke Lombok, kata orang itu keduanya baru kembali dari Surabaya dan mengalami kecopetan sehingga tidak memiliki uang dan alat komunikasi,” lanjut Mery.
“Saya kemudian tanya mereka mau pulang kemana, tapi rekannya yang berusia lebih tua dari Paris itu tidak bisa berbahasa Sasak. Setelah saya menanyakan dengan bahasa Indonesia, baru rekannya itu menjawab hendak pulang ke Lombok Tengah,” imbuh Mery melanjutkan ceritanya.
Sepanjang perjalanan, Mery mengaku tidak berhenti menginterogasi kedua anak tersebut. Namun begitu, keterangan yang diberikan kerap membingungkannya.
“Saya tanya lagi mau pulang kemana, dijawab mau pulang ke Praya. Beberapa saat saya tanya lagi, rekannya itu bilang mau pulang ke Mujur. Paris selama perjalanan menuju pelabuhan Padang Bai hanya diam saja. Saya heran orang Lombok kok tidak bisa bahasa Sasak,” ungkap Mery.
Hal yang lebih membingungkan kata Mery, ketika dia menanyakan perihal keluarga Paris di Lombok, semuanya dikatakan sudah meninnggal.
“Saya tanya sama Paris pake bahasa Indonesia dan jawabannya sama mau pulang ke Lombok Tengah, ke Praya. Saya tanya Ibunya, Ayahnya, Kakek Neneknya, keluarganya semuanya dibilang sudah meninggal, kan saya makin bingung,” tutur Mery.
Dia dan suaminya lantas berfikir bahwa Paris adalah korban penculikan karena setiap Paris ditanya, jawabannya selalu tidak tahu dan rekannya itu memberikan keterangan yang berubah-ubah.
“Saya mau belikan Paris makanan minuman tapi tidak mau, hanya mau diam saja di dalam truck ketika kami menunggu untuk naik kapal. Kami terus menginterogasi rekannya itu sampai akhirnya dia mau menjawab dengan bahasa Sasak yang membuat kami sedikit lega,” kata Mery.
Namun begitu, kecurigaannya bahwa paris adalah korban penculikan tetap muncul sehingga dirinya tidak berani untuk mengantarkan ke tempat tujuan. Hal tersebut lantaran keterangan yang diberikan oleh rekannya itu kerap berubah-ubah dan membuatnya bingung, Sebentar menyebut Praya, Mujur, bahkan mengatakan mau membuat KTP.
“Karena Paris ini tidak bisa ngomong berbahasa Sasak, kami mengira dia diculik, dibawa kabur oleh temannya yang lebih besar itu. Sehingga kami memutuskan untuk berpisah setelah kapal bersandar di pelabuhan lembar. Saya minta mereka naik ojek, biar nanti ojek yang antarkan kemana-mana mereka mau. Saya dan suami juga mau bongkar muatan di Mataram,” jelas Mery.
Dirinya mengaku kaget setelah melihat postingan di Facebook, dan memberikan komentar bahwa dirinyalah yang membawa anak itu dari Bali ke Lombok dan berpisah di Pelabuhan Lembar.
“Saya sudah berkomunikasi dengan keluarganya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Biar tidak salah paham, nanti dikira saya menelantarkan anak-anak itu,” pungkasnya.
Redaksi Lensa Mandalika, hari ini (7/1/2022) sempat berkunjung ke rumah keluarga Paris di Dusun Selak, Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur untuk meminta konfirmasi secara langsung. Namun begitu, pihak keluarga termasuk paris sedang melakukan perjalanan ziarah sehingga belum bisa beretemu. (red/lm)
Keterangan foto: Narap dan Paris, dua warga Dusun Selak Desa Kidang Kecamatan Praya Timur yang sempat hilang selama dua tahun. Narap diketahui memiliki gangguan jiwa, sempat membawa Paris ke Jawa dan Bali (Foto: dok.ist)