Bosan Belajar di Rumah, Ratusan Siswa NTB Pilih Menikah

0
Ilustrasi Pernikahan Dini (Foto: Dok. Istimewa)

Lensamandalika.com – Belajar dari Rumah (BDR) diterapkan di seluruh kabupaten/kota di Provinsi NTB di tengah masih merebaknya penyebaran pandemi Covid-19 sebagai pengganti pembelajaran konvensional secara tatap muka.

Bukannya belajar dengan baik demi menyongsong masa depan yang lebih cerah, ratusan siswa/siswi di NTB justeru memilih menikah dikarenakan bosan terus-terusan dirumah dan tidak pernah pergi ke sekolah.

Baca Juga: Lanjut Belajar Daring, Kemdikbud Butuh 7,35 Miliar GB Kuota Internet

Kepala Seksi Peserta Didik dan Kelembagaan Bidang Pembinaan SMA, Dinas Dikbud Provinsi NTB Aryanti Dwiyani Rabu (26/8) lalu menyatakan bahwa Pandemi Covid-19 ini mempunyai dampak di lingkungan pendidikan, salah satunya siswa menikah, karena kegiatan belajar mengajar di sekolah hampir sudah tidak ada

Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB, jumlah pelajar jenjang SMA sederajat di NTB yang menikah di masa pandemi Covid-19 sebanyak 148 siswa.

Baca Juga: Alhamdulillah, Guru Honorer Juga Akan Dapat Subsidi Gaji Rp. 600 Ribu

Kasus pernikahan pelajar di masa pandemi Covid-19 ini menjadi pekerjaan rumah bersama banyak kalangan seperti pihak keluarga, pemerintah dan sekolah agar bisa secara kolektif memberikan pemahaman kepada peserta didik yang saat ini sedang menempuh pendidikan.

Terkait usia menikah, Aryanti menyebutkan bahwa pihaknya melalui sekolah-sekolah sudah memberikan materi pendewasaan usia pernikahan yakni pada usia 23 tahun karena dianggap telah memiliki kepribadian yang matang.

Baca Juga: Asyik! PNS Bakal Dapat Pulsa Gratis Rp 200 Ribu per Bulan

Sementara itu, Kasi Kurikulum PSMA Dikbud NTB, Purne Susanto mengaku banyak  hal yang membuat siswa menikah, terutama bebasnya keluyuran dari rumah. Hal ini dikarenakan, orang tua sibuk bekerja, sementara anaknya dibiarkan sendiri di rumah.

Hal ini tentunya menyebabkan siswa kurang mendapatkan pengawasan di rumah oleh orang tua maupun lingkungan sekitar. Sementara itu, pengawasan dari pihak sekolah kepada para siswa sangat terbatas selama penerapan belajar dari rumah di masa pandemic corona. (red/LM)