Lensamandalika.com – Meski sempat ada pelarangan dari aparat kepolisian lantaran menimbulkan kerumunan yang melanggar protokoler covid-19, tak menyurutkan warga untuk berbondong-bondong sejak pukul 03.00 WITA demi menunggu kedatangan sang Putri Nyale.
Para pemburu Nyale (Cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika, red) ramai-ramai membagikan pengalamannya di media social facebook mengenai pengalaman berburu nyale di pesisir pantai selatan Lombok Tengah hingga Lombok Timur, Selasa (2/2) pagi ini.
Rata-rata netizen facebook yang membagikan pengalaman bau nyale kali ini mengatakan tak mendapatkan nyale meskipun tanda-tanda alam seperti kilat dan hujan biasanya menjadi pertanda akan banyak nyale, salah satunya Ketua Solidaritas Warga Inter Mandalika (SWIM) Lalu Alamin.
Melalui unggahan facebooknya, Aming sapaan akrabnya membagikan pengalaman bau nyale pagi tadi.
“Biasanya setelah muncul dalam jumlah tidak terlalu banyak di hari pertama, Senin (1/2) kemarin, Nyale akan membeludak dihari selanjutnya ( cukup 2 hari ), ” tulisnya.
Ia mengatakan dari kemarin sudah turun untuk bau nyale, tetapi ternyata dua hari berturut-turut, nyale sangat minim.
“Tahun ini, dua hari berturut turut nyale muncul sangat feminim dan minim, bisa jadi karena tuan puteri berdandan terlalu lama, ” imbuhnya satire.
Ketua Karang Taruna Kecamatan Pujut, Sri Anom Putra Sanjaya juga mengatakan tak mendapatkan nyale.
“Efek Peringatan Pertama Aparat, Putri Nyale yang Bijaksana Akhirnya Memutuskan untuk tidak keluar hari ini, ” katanya.
Dia mengaku kesal lantaran banyak warganet yang mengunggah foto hasil tangkapan nyale yang ternyata merupakan hasil tangkapan di bau nyale tahun-tahun sebelumnya.
“Jangan unggah foto nyale jaman bahula,” kesalnya via status facebooknya.
Berdasarkan sangkep warige bau nyale yang dilakukan oleh BLOK PUJUT beberapa waktu yang lalu dengan mengundang tokoh dari berbagai kalangan, nyale biasanya akan keluar pada tanggal 20 bulan 10 berdasarkan penanggalan sasak.
Setelah dicocokkan dengan penanggalan masehi, bertepatan dengan 2-3 Februari 2021. Sehingga masih ada kemungkinan warga akan kembali mendatangi pesisir selatan esok pagi.
Pada sangkep warige tersebut juga disepakati nyale baru akan tumpah (banyak, red) pada bulan Maret mendatang, tepatnya tanggal 3-4 Maret 2021.
“Tanggal 20 Bulan 10 kalender sasak sebagaimana kita meyakini sebagai tanggal terjunnya Putri Mandalika bertepatan dengan 2-3 Februari, namun dengan berbagai pertimbangan mengacu pada tanda-tanda alam yang muncul, para tokoh sepakat bahwa nyale akan tumpah pada 3-4 Maret, ” papar Ketua Panitia sangkep Warige, Lalu Hadinata, (16/1) beberapa waktu yang lalu.
Pelaksanaan pesta rakyat bau nyale pada tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang dimeriahkan dengan berbagai macam festival hingga konser musik. Hal tersebut lantaran masih merebaknya pandemi virus corona di Indoneia. (Red/dwr)
Selengkapnya mengenai sangkep warige: