Lensamandalika.com – Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) ke VIII di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang diselenggarakan oleh Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) resmi dimulai pada Sabtu (26/7/25) malam di halaman Bumo Gora, Kantor Gubernur NTB.
Gelaran Fornas VIII akan diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 26 Juli hingga 1 Agustus 2025 mendatang. Kedatangan kontingen Fornas VIII di NTB tidak hanya untuk mengikuti berbagai jenis lomba dan pertandingan, tetapi juga untuk menikmati destinasi wisata yang ada.
Pantauan Lensa Mandalika Media, ratusan orang dengan mengenakan baju official Fornas dari daerah masing-masing tampak mengunjungi kampung adat suku Sasak Ende di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.
“Ramainya sejak H-3 event, mulai Kamis tanggal 24 Juli kemarin sudah mulai ramai yang datang ke tempat kami,” beber Tantowi Surahman, pengelola kampung adat Suku Sasak Ende kepada Lensa Mandalika, Senin (28/7/25).
Dikatakan Tantowi, adanya Fornas VIII meningkatkan angka kunjungan ke kampung Ende sebesar 50% dari hari normal. Jika biasanya pada bulan Juli-September adalah high season kunjungan tamu mancanegera, khusus di akhir bulan Juli terdapat peningkatan signifikan dari kontingen Fornas.
“Kami memprediksi kontingen Fornas VIII dari luar daerah ini masih akan berkunjungan hingga H+4 mendatang. Artinya sampai tanggal 5 Agustus nanti, saya masih optimis tamu-tamu dari kontingen Fornas VIII masih akan datang ke Kampung Ende,”.
Dikatakan Towi sapaan akrabnya, tamu-tamu dari Fornas VIII yang datang ke Kampung Ende juga meningkatkan geliat UMKM. Produk Jajanan hingga olahan hasil pertanian selalu diburu oleh para tamu.
“Dari segi sudut pandang ekonomi, terdapat peningkatan di transaksi untuk pertunjukan kesenian, produk-produk UMKM, dan jasa local guide di Kampung Ende,” jelas Towi.
“Adanya event ini tentu kami sangat bersyukur sekali. Kampung Sasak Ende menjadi semakin ramai dikunjungi dan tentu menjadi berkah untuk kami semua yang tinggal disini. Liat aja nanti pas tamunya pulang, setiap tamu pasti bawa tentengan belanjaan,” imbuhnya.
Ditegaskan Tantowi, pihak-pihak yang mengatakan bahwa ajang Fornas VIII di NTB adalah ajang buang sampah adalah sangat tidak benar, sangat bertolak belakang dengan keadaan di lapangan.
“Sebagai pengelola destinasi wisata, kami sangat merasakan manfaatnya. Positif sekali, kalau dikatakan banyak sampah yang tentu tidak benar. Kalau banyak uang yang beredar di destinasi, saya yakin itu baru benar,” kelakar Tantowi.
Dirinya optimis, kesuksesan NTB menjadi tuan rumah Fornas VIII ini akan berdampak positif pada kepercayaan diri yang semakin meningkat untuk menjadi tuan rumah PON 2030 mendatang.
“Insyaallah nanti PON 2030 pasti lebih meriah lagi. Sekarang saja sangat kita rasakan manfaatnya di Segala sektor penunjang pariwisata NTB. Baik akomodasi, destinasi, transportasi, bahkan pedagang-pedagang asongan di lokasi pertandingan,” pungkasnya.