Lensamandalika.com – Ketua Asosiasi Pengusaha Transportasi (APTA) Nusa Tenggara Barat, Lalu Reza Fadila, menyoroti minimnya komunikasi dan keterlibatan jajaran pimpinan PT Mandalika Grand Prix Association (MGPA) dengan masyarakat di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Lalu Reza pada Selasa (9/6/2026). Menurutnya, sejak menjabat sebagai Direktur Utama MGPA, Ananda Mikola, bersama Komisaris MGPA, Sabolah, belum pernah terlihat menggelar forum dialog maupun sosialisasi yang melibatkan masyarakat sekitar kawasan Mandalika.

“Selama menjabat di MGPA, kami belum melihat adanya ruang komunikasi yang dibangun secara langsung dengan masyarakat lokal. Padahal, interaksi seperti diskusi atau silaturahmi sederhana sangat penting untuk memperkuat hubungan antara pengelola kawasan dan warga sekitar,” ujar Lalu Reza.

Ia menilai pola komunikasi yang selama ini terbangun masih terkesan tertutup dan belum mencerminkan semangat keterbukaan yang menjadi karakter masyarakat Lombok, khususnya di wilayah Pujut.

Menurutnya, masyarakat setempat dikenal memiliki budaya yang ramah, terbuka, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Karena itu, ia berharap para pemangku kebijakan di kawasan strategis seperti Mandalika dapat lebih aktif membangun kedekatan dengan warga.

“Kami menyayangkan jika komunikasi dengan masyarakat belum berjalan optimal. Padahal, warga Pujut memiliki tradisi yang kuat dalam menjalin hubungan sosial dan sangat terbuka terhadap siapa pun yang datang untuk berdiskusi,” katanya.

Meski demikian, Lalu Reza mengaku tetap mengapresiasi keberadaan putra daerah yang dipercaya menduduki posisi strategis di lingkungan MGPA. Ia menilai hal tersebut merupakan bentuk kepercayaan yang patut dibanggakan.

Namun, menurutnya, selain memiliki latar belakang daerah yang sama, seorang pejabat juga perlu memahami karakter, budaya, serta dinamika sosial masyarakat yang berada di sekitar kawasan yang dikelolanya.

“Kami tentu bangga ada putra daerah yang diberi amanah di posisi penting. Tetapi yang tidak kalah penting adalah kemampuan memahami kondisi sosial dan karakter masyarakat lokal secara menyeluruh,” tegasnya.

Ke depan, APTA NTB berharap semakin banyak putra daerah yang mendapatkan kesempatan mengisi posisi strategis, baik di MGPA maupun Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), dengan bekal pemahaman yang kuat terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat.

“Kami berharap ke depan ada lebih banyak putra daerah yang tidak hanya mewakili daerahnya secara administratif, tetapi juga benar-benar memahami budaya, karakter, dan harapan masyarakat lokal sehingga mampu menjadi jembatan antara perusahaan dan warga,” pungkas Lalu Reza. (Red/lm)