Lensamandalika.com – Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), mengajak umat Islam untuk tidak memperdebatkan perbedaan penetapan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah yang terjadi tahun ini.
TGB menyampaikan, perbedaan waktu memulai ibadah puasa merupakan hal yang wajar dan telah lama dikenal dalam tradisi keilmuan Islam. Bahkan, dia mengaku menerima langsung kabar dari sahabatnya yang lebih dahulu memulai puasa.
“Semalam saya menerima sahur call dari sahabat yang memulai puasa hari ini. Saya jawab shaumam maqbula, semoga puasa anda diterima Allah SWT,” ujarnya dikutip dari laman instagram pribadinya, Rabu (18/2/26).
Dia menjelaskan, sebagian umat Islam memulai puasa lebih awal berdasarkan metode hisab, sementara sebagian lainnya, termasuk dirinya, memulai puasa pada Kamis (19/2/26) besok, mengikuti hasil rukyat yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.
“Tahun ini para sahabat, sebagian dari kita memulai puasa hari ini berdasarkan metode hisab, sebagian lain termasuk saya memulai besok pada hari Kamis berdasarkan metode rukyat dari Kementerian Agama,” katanya.
Menurut TGB, perbedaan tersebut dalam pandangan ulama dikenal sebagai Al-ikhtilaful mu’tabar, yaitu perbedaan yang diakui dan dibenarkan karena masing-masing metode memiliki dasar dan landasan yang sah secara syariat.
“Perbedaan ini termasuk kata para ulama adalah Al-ikhtilaful mu’tabar, yaitu perbedaan yang diakui karena metode keduanya valid, dan landasan Al-Qur’an dan haditsnya juga valid. Karena itu tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi dipertentangkan,” tegasnya.
Dia menekankan, yang terpenting dalam menjalankan ibadah puasa bukanlah perbedaan metode penentuan awalnya, melainkan kualitas ibadah itu sendiri. Puasa yang diterima oleh Allah SWT adalah puasa yang memenuhi seluruh rukun dan syaratnya, serta dijalankan dengan penuh keikhlasan.
“Toh di dalam agama, kita juga diingatkan bahwa puasa yang diterima itu bukanlah puasa yang ditentukan dari metode awal puasanya, apakah itu rukyat atau hisab, tetapi puasa yang diterima adalah yang memenuhi rukun dan syaratnya,” ujarnya.
Perbedaan awal Ramadhan 1447 Hijriah sendiri terjadi karena perbedaan metode penentuan, di mana sebagian umat Islam menggunakan metode hisab, sementara pemerintah menetapkan awal puasa berdasarkan hasil rukyat dan sidang isbat yang menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 besok. (red/lm)