Lensamandalika.com – Aliansi Pemuda Pujut menyoroti minimnya pelibatan pemuda lokal dalam penyelenggaraan Korpri Fun Night Run Mandalika 2025, sebuah event lari malam bagi ASN dan masyarakat umum yang digelar pada 6 Desember 2025 di kawasan Sirkuit Mandalika.

Koordinator Aliansi Pemuda Pujut, Marjan, menyayangkan lemahnya komunikasi antara panitia dan masyarakat setempat, meski kegiatan ini menggunakan nama besar Mandalika dan berlangsung di wilayah Pujut sebagai tuan rumah kawasan.

Menurut dia, penyelenggara tidak menunjukkan penghargaan yang layak terhadap masyarakat lokal.

“Pemuda Pujut bukan hanya ingin menjadi penonton di tanah sendiri. Kami ingin terlibat, berkontribusi, dan menjadi bagian dari keberhasilan event yang memakai nama besar Mandalika. Namun hingga pelaksanaan, tidak ada sosialisasi, tidak ada permisi, tidak ada rekrutmen volunteer, dan komunikasi penyelenggara sangat tertutup,” kata Marjan.

Aliansi mencatat sejumlah persoalan, mulai dari ketiadaan sosialisasi, tidak adanya permisi kepada tokoh pemuda dan tokoh masyarakat, hingga tidak dibukanya kesempatan bagi pemuda Pujut untuk terlibat sebagai volunteer. Hal itu membuat masyarakat lokal hanya menjadi penonton, bukan bagian dari penyelenggaraan kegiatan.

Marjan menegaskan bahwa pola seperti ini berulang terjadi dalam sejumlah acara besar di Mandalika. Masyarakat lokal, kata dia, sering merasa hanya digunakan sebagai latar tempat tanpa diberi ruang berpartisipasi.

“Nama Mandalika selalu dipakai, tetapi masyarakat Mandalika tidak dilibatkan. Ini bentuk pengabaian terhadap potensi dan identitas kami sebagai tuan rumah kawasan,” ujarnya.

Aliansi Pemuda Pujut juga menilai kanal komunikasi penyelenggara tertutup dan sulit diakses. Bahkan ketika pemuda setempat berinisiatif menawarkan diri untuk membantu, respons dari panitia dinilai lambat dan tidak memberikan kepastian.

Menurut Marjan, situasi ini justru kontras dengan penyelenggara event nasional seperti Pocari Run yang dinilainya lebih menghargai adat, budaya, serta tata krama masyarakat Pujut.

“Ironisnya, panitia dari luar daerah lebih memahami budaya lokal dibanding panitia yang disebut berasal dari Lombok Tengah sendiri. Ini membuat kami bertanya-tanya soal itikad penyelenggara,” katanya.

Aliansi juga menilai kegiatan tersebut lebih tampak untuk kepentingan internal panitia. Jika pola seperti ini berlanjut, Marjan menilai lebih baik event semacam itu tidak membawa nama Mandalika.

“Kalau kegiatannya hanya untuk kelompok mereka sendiri, ya semestinya tidak dilakukan di Mandalika. Karena jelas tidak ada manfaat bagi pemuda lokal,” tegasnya.

Aliansi Pemuda Pujut mengingatkan bahwa pola penyelenggaraan event besar tanpa pelibatan masyarakat lokal dapat memunculkan jarak sosial dan ketidakpercayaan antara warga Pujut dan pelaksana kegiatan.

“Kami selalu siap menjadi mitra strategis. Tapi kalau masyarakat lokal terus diabaikan, itu bukan lagi sekadar kurang koordinasi, melainkan pengabaian terhadap identitas Mandalika itu sendiri,” pungkas Marjan. (Red/LM)