Lensamandalika.com – Desa Segala Anyar dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi pertanian yang cukup menjanjikan. Berbagai komoditas tumbuh subur di desa ini, mulai dari hortikultura hingga tanaman perkebunan. Salah satu yang kini mulai menunjukkan hasil menggembirakan adalah komoditas kopi yang dikembangkan oleh warga setempat.

Di Dusun Kadik II, tepatnya di Kebon Kupi Langan Dadih, hamparan kebun kopi seluas sekitar 12 are tampak hijau dan produktif. Kebun tersebut ditanami sekitar 300 pohon kopi jenis arabika dan robusta yang kini telah memasuki masa panen setelah empat tahun perawatan.

Pemilik kebun, Amaq Rasip, mengaku panen tahun ini menjadi yang terbaik sejak pertama kali menanam kopi.

“Panen tahun ini adalah yang terbanyak sejak awal ditanam. Sebelum-sebelumnya hanya cukup untuk konsumsi sendiri saja,” ujarnya.

Ia menuturkan, keputusan menanam kopi berangkat dari upayanya mencari komoditas yang lebih menjanjikan. Sebelumnya, lahan tersebut pernah ditanami pisang dan pepaya, namun belum memberikan hasil yang signifikan.

“Awalnya saya coba-coba tanam kopi ini, karena tanaman sebelumnya seperti pisang dan pepaya belum memberi hasil maksimal. Saya belajar pelan-pelan, tidak ada kata terlambat untuk mencoba hal baru,” katanya.

Di usia yang telah menginjak 60 tahun, Amaq Rasip membuktikan bahwa semangat belajar dan bekerja tidak mengenal batas usia. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil mengembangkan tanaman kopi di lahan tadah hujan yang memiliki keterbatasan air.

“Alhamdulillah, di tahun keempat ini hasilnya mulai terasa. Buah kopi sudah banyak, bahkan ini panen terbanyak sejak pertama tanam. Saya berharap ke depan bisa lebih baik lagi dan bisa mengajak petani lain ikut menanam kopi,” tambahnya.

Melalui berbagai inovasi dan rekayasa lingkungan sederhana, upayanya mulai membuahkan hasil. Kini, selain menikmati hasil panen, Amaq Rasip juga menyediakan bibit kopi arabika bagi petani lain yang ingin mengikuti jejaknya.

“Saya juga siapkan bibit kopi arabika bagi siapa saja yang mau mencoba. Semoga ini bisa jadi peluang baru untuk para petani,” ujarnya.

Kepala Desa Segala Anyar, Ahmad Zaini, mengapresiasi upaya yang dilakukan Amaq Rasip. Menurutnya, kondisi geografis desa yang didominasi lahan kering dan tadah hujan justru menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan pertanian yang adaptif.

“Apa yang dilakukan oleh Amaq Rasip ini menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan lahan dan air bukan menjadi penghalang untuk berinovasi dalam pertanian,” kata Ahmad Zaini.

Ia menjelaskan, petani di Desa Segala Anyar selama ini mampu mengoptimalkan lahan tadah hujan dengan berbagai komoditas pertanian.

“Desa Segala Anyar memiliki potensi besar di sektor pertanian, terutama pada lahan kering dan tadah hujan. Dengan pengelolaan yang tepat, berbagai komoditas bisa tumbuh dan menghasilkan, termasuk kopi arabika dan robusta,” jelasnya.

Selain kopi, masyarakat juga mengembangkan komoditas lain seperti melon, semangka, cabai, tomat, dan bawang, serta berbagai sayuran sebagai sumber penghasilan tambahan.

Dalam upaya mendorong pertanian yang berkelanjutan, pemerintah desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan kelompok petani muda terus mengembangkan inovasi, salah satunya dengan memproduksi pupuk organik berbahan dasar kotoran hewan (kohe) dari peternakan warga.

“Melalui BUMDes dan kelompok petani muda, kami terus mendorong pengembangan pertanian berkelanjutan, termasuk produksi pupuk organik dari kotoran hewan yang tersedia melimpah di desa,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, pemerintah desa juga menjalin kerja sama dengan pihak luar untuk meningkatkan kualitas pertanian, termasuk dengan Wakai Farm dari Jepang dalam pengembangan sayuran organik.

“Kami juga sedang menjalin kerja sama dengan Wakai Farm dari Jepang untuk pengembangan sayuran organik. Rencananya akan dibangun greenhouse sebagai bentuk keseriusan dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian di desa,” pungkasnya. (red/lm)