Lensamandalika.com – Upaya menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kesehatan di dalam gedung puskesmas. Deteksi dini, pendampingan, komunikasi, hingga memastikan ibu hamil mendapatkan pemeriksaan sesuai standar menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi selama masa kehamilan.

Hal itu yang kemudian mendorong UPT BLUD Puskesmas Kuta, Lombok Tengah, mengembangkan sejumlah inovasi pelayanan bagi ibu hamil. Tiga di antaranya adalah Cek Bon, Si Butet, dan Puri Nyai.

Ketiganya tidak berdiri sendiri. Inovasi tersebut dikembangkan secara bertahap untuk menjawab persoalan yang ditemukan di lapangan, mulai dari ibu hamil dengan risiko tinggi, kebutuhan pendampingan dan komunikasi yang lebih intensif, hingga akses pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Bidan Puskesmas Kuta, Nessa Selvia, mengatakan kehamilan merupakan perjalanan istimewa yang penuh harapan sekaligus tantangan.

Namun, di balik proses tersebut masih terdapat ibu hamil yang menghadapi keterbatasan informasi, akses layanan kesehatan, maupun dukungan yang memadai.

“Maka dari itu, inovasi hadir bukan sekadar teknologi, melainkan sebuah bentuk kepedulian,” ujarnya.

Berawal dari Cek Bon

Pengembangan inovasi tersebut salah satunya berangkat dari pengalaman Puskesmas Kuta dalam menangani ibu hamil berisiko tinggi.

Kepala UPT BLUD Puskesmas Kuta, Zainal Abidin, mengatakan pihaknya belajar dari pengalaman pelayanan pada periode 2017 hingga 2022, ketika terdapat satu kasus kematian ibu hamil di wilayah kerjanya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Puskesmas Kuta berupaya memperkuat sistem pemantauan ibu hamil.

“Ini yang mendorong kami harus berusaha jangan sampai ada kematian ibu hamil berikutnya,” kata Zainal.

Pada awal 2023, Puskesmas Kuta kemudian membentuk tim dan merumuskan inovasi yang diberi nama Cek Bon.

Cek Bon merupakan singkatan dari Cek Bondol. Dalam bahasa Sasak, bondol atau betian merujuk pada kondisi hamil. Secara sederhana, inovasi ini merupakan kegiatan kunjungan tim ke rumah ibu hamil yang memiliki risiko tinggi sebagai tindak lanjut dari pelayanan Antenatal Care (ANC) terpadu.

Melalui Cek Bon, ibu hamil yang memiliki faktor risiko, seperti anemia maupun risiko lainnya, mendapatkan pemantauan secara langsung di rumah.

Pelayanan tersebut melibatkan berbagai unsur, baik lintas program maupun lintas sektor. Pemeriksaan dokter menjadi bagian awal, kemudian dilanjutkan dengan edukasi gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), promosi kesehatan, pemeriksaan laboratorium, hingga edukasi kesehatan lingkungan.

Dengan pendekatan tersebut, penanganan ibu hamil berisiko tidak hanya dilakukan oleh satu tenaga kesehatan, tetapi melibatkan tim sesuai kebutuhan masing-masing ibu.

Berlanjut dengan Si Butet

Pengalaman dalam menjalankan pemantauan ibu hamil kemudian berkembang pada kebutuhan untuk memperkuat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan ibu hamil.

Puskesmas Kuta selanjutnya mengembangkan inovasi Si Butet, atau Sistem Informasi Ibu Hamil Terpantau Persalinan Selamat.

Inovasi ini memanfaatkan komunikasi melalui WhatsApp Group yang melibatkan bidan dengan ibu hamil maupun keluarga. Gagasan tersebut juga berkaitan dengan kebijakan Dinas Kesehatan yang mendorong setiap tim bidan, baik di puskesmas maupun poskesdes, memiliki kelompok komunikasi dengan ibu hamil.

Menurut Zainal, komunikasi tersebut bertujuan mempercepat pemantauan perkembangan kehamilan sejak awal kehamilan hingga menjelang persalinan.

“Tujuannya untuk mempercepat proses pemantauan progres kehamilan atau perkembangan kehamilan, mulai dari awal kehamilan sampai dengan melahirkan,” jelasnya.

Melalui komunikasi yang lebih mudah, tenaga kesehatan dapat memberikan informasi dan pendampingan secara lebih cepat. Di sisi lain, ibu hamil juga memiliki ruang untuk berkonsultasi ketika membutuhkan informasi maupun bantuan.

Nessa mengatakan keberadaan Si Butet diharapkan membuat ibu hamil merasa lebih aman, nyaman, dan terlindungi selama menjalani kehamilan.

Menurutnya, inovasi tersebut juga membantu mempercepat komunikasi dan meningkatkan ketepatan informasi yang diterima ibu hamil.

“Karena setiap ibu berhak mendapatkan yang terbaik,” ujarnya.

Pendampingan melalui Si Butet juga diharapkan dapat mengurangi kecemasan ibu hamil, meningkatkan deteksi dini terhadap risiko, serta menjaga kesehatan ibu dan bayi.

Dengan komunikasi yang lebih intensif, ibu hamil diharapkan menjadi lebih siap, tenang, dan percaya diri menghadapi masa kehamilan hingga persalinan.

Puri Nyai, Memastikan Pemeriksaan USG

Rangkaian inovasi Puskesmas Kuta kemudian diperkuat dengan inovasi Puri Nyai, yakni Pemeriksaan USG Rutin, Deteksi Dini Kesehatan Ibu dan Bayi.

Inovasi ini dikembangkan untuk mendukung pemenuhan kualitas pelayanan ANC sesuai standar, khususnya dalam memastikan ibu hamil mendapatkan pelayanan USG.

Bidan Puskesmas Kuta, Nessa Selvia, menjelaskan selama masa kehamilan ibu perlu mendapatkan pemeriksaan secara rutin. Dalam program tersebut, pelayanan USG dilakukan setidaknya dua kali, yakni pada kunjungan pertama dan kunjungan kelima.

“Tujuan inovasi ini mempermudah akses ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan USG dan mengurangi biaya,” katanya.

Dokter Puskesmas Kuta, dr. AM Resniwati, menjelaskan pemeriksaan USG memiliki sejumlah manfaat penting dalam pemantauan kehamilan.

Selain membantu memantau kondisi kesehatan ibu dan janin, USG dapat membantu mengetahui usia kehamilan, terutama apabila ibu hamil tidak mengetahui atau lupa hari pertama haid terakhir (HPHT).

Pemeriksaan tersebut juga berperan dalam mendeteksi secara dini kemungkinan komplikasi kehamilan.

“Dan yang terakhir, melakukan rujukan segera jika ditemukan adanya kelainan pada saat USG,” jelasnya.

Dengan demikian, pemeriksaan USG tidak hanya menjadi pemeriksaan rutin, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk menemukan potensi masalah sedini mungkin sehingga dapat segera ditindaklanjuti.

Satu Rangkaian, Satu Tujuan

Zainal Abidin menjelaskan, Cek Bon, Si Butet, dan Puri Nyai merupakan rangkaian inovasi yang dikembangkan secara berkelanjutan oleh Puskesmas Kuta.

“Cek Bon, kemudian kami lanjutkan dengan Si Butet. Maka Puri Nyai ini yang kami namakan dan kami sebut adalah Pemeriksaan USG Rutin, Deteksi Dini Kesehatan Ibu dan Bayi,” ujarnya.

Menurutnya, secara umum ketiga inovasi tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mencegah dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta menekan angka komplikasi kehamilan.

Jika Cek Bon menitikberatkan pada kunjungan dan penanganan ibu hamil berisiko, Si Butet memperkuat komunikasi dan pendampingan, sementara Puri Nyai memastikan akses pemeriksaan USG sebagai bagian dari deteksi dini.

Ketiganya membentuk pola pelayanan yang saling melengkapi.

Data kunjungan ibu hamil ke Puskesmas Kuta, menurut Zainal, juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya setelah inovasi tersebut dijalankan. Data tersebut bersumber dari aplikasi e-Puskesmas.

Peningkatan kunjungan tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa upaya mendekatkan pelayanan dan pendampingan kepada ibu hamil mulai mendapat respons positif dari masyarakat.

Hal tersebut juga tercermin dari pengalaman ibu hamil yang mendapatkan pelayanan USG di Puskesmas Kuta.

Baiq Murni, warga Bun Petung, Desa Prabu, mengaku merasa puas dan nyaman dengan pelayanan yang diterimanya.

“Saya sangat puas dan sangat senang dengan pelayanan USG dan pelayanan ini,” ujarnya.

Mengawal Kehamilan hingga Persalinan

Bagi Puskesmas Kuta, inovasi pelayanan bukan semata tentang menghadirkan program baru. Lebih dari itu, inovasi tersebut menjadi upaya untuk memastikan ibu hamil tidak berjalan sendiri selama menjalani proses kehamilan.

Dari rumah ibu hamil berisiko melalui Cek Bon, komunikasi dan pendampingan melalui Si Butet, hingga pemeriksaan USG melalui Puri Nyai, seluruh rangkaian tersebut diarahkan pada satu tujuan: menemukan risiko lebih awal, memberikan pendampingan lebih cepat, dan memastikan ibu mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

“Menurut kami bahwa inovasi ini harus dipertahankan dan harus ditingkatkan,” kata Zainal.

Ia berharap upaya tersebut dapat terus dikembangkan sehingga tidak ada lagi kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas Kuta.

“Insya Allah, mudah-mudahan di waktu-waktu yang akan datang tidak terjadi lagi angka kematian ibu di wilayah kami, khususnya Puskesmas Kuta,” pungkasnya. (Red/eds)