Lensamandalika.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kedua negara masih terlibat dalam saling serang, memanfaatkan kekuatan militer dan sumber daya yang mereka miliki.

Di tengah eskalasi tersebut, perbincangan di ruang publik, terutama media sosial, tidak hanya membahas konflik bersenjata. Narasi lain yang ikut mengemuka adalah soal Syiah, seiring identitas Iran yang kerap dilekatkan sebagai “negara Syiah”.

Situasi ini memunculkan perdebatan di kalangan masyarakat. Sebagian mempertanyakan sikap yang seharusnya diambil terhadap Iran, terlebih dengan beredarnya pandangan yang menyebut Syiah bukan bagian dari Islam.

Menanggapi polemik tersebut, salah satu ulama nasional, TGB. Dr. HM. Zainul Majdi, menyampaikan pandangannya melalui video yang diunggah di akun media sosial pribadinya pada Rabu, (4/3/26).

Menurut TGB, Syiah tetap berada dalam lingkup umat Islam.

“Syiah itu memang tidak sama dengan kita. Namun, mereka tetap bagian dari ummat nabi besar Muhammad SAW. Tetap saudara seagama, seiman dan seislam,” jelas TGB.

Ketua Umum PBNWDI itu mengakui adanya kelompok-kelompok ekstrem dalam tubuh Syiah. Ia mencontohkan sebagian kecil yang mengkafirkan sahabat Nabi.

“Ada yang ekstream di antara mereka? Iya. Ada namanya Ghulat Arrofidah atau Ghulat Syi’ah yang meyakini bahwa sebagian besar sahabat nabi itu telah kufur seperti Sayyidina Umar, Sayyidah Aisyah mereka kafirkan. Tetapi, ini kelompok kecil yang tidak menggambarkan pandangan mayoritas kaum Syiah,” ungkap Ketua OIAA Indonesia ini.

Namun demikian, doktor tafsir lulusan Universitas Al Azhar tersebut menegaskan bahwa kelompok berpandangan ekstrem tidak hanya ada dalam Syiah, tetapi juga di kalangan umat Islam lainnya.

“Kelompok ekstream seperti ini tidak hanya ada di kelompok Syiah. Ya di kitapun. Di tengah-tengah kitapun banyak. Ada namanya Wahabi Takfiri yang kerjanya mengkafirkan, membid’ahkan, menganggap orang sesat, hanya karena ada pengalaman keagamaan yang berbeda. Ada juga di antara kita namanya Ghunatul Hanabilah. Kelompok yang disebut juga al Mujassimah. Dia menganggap bahwa Allah SWT itu punya anggota badan persis seperti manusia. Punya mata, telinga, wajah, jari sama seperti manusia. Ini kelompok ekstream di tengah-tengah kita. Bukan orang Syiah ya. Tetapi sekali lagi, yang ekstream ini tidak mencerminkan pandangan kita,” jelas TGB.

TGB juga meluruskan anggapan yang menyebut bahwa Al-Qur’an versi Syiah berbeda dengan yang digunakan umat Islam pada umumnya. Ia mengaku pernah melakukan pengecekan langsung saat berkunjung ke Kota Qom, Iran.

“Banyak isu-isu yang ternyata sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan. Termasuk misalnya orang Syiah itu punya Qur’an yang berbeda dengan kita. Itu ucapan yang tidak benar. Al Qur’an yang dibaca oleh orang Syiah ya dan saya pernah lihat sendiri ketika saya datang ke Qom (Iran), saya shalat subuh, saya cek al Qur’annya. Saya mau tahu bener enggak al Quran mereka beda dengan kita? Ternyata sama. Saya cek juga al Qurannya orang Syiah yang ada di Iraq, di Lebanon, di Yaman, ternyata sama dengan al Qur’an yang kita baca,” ungkap TGB.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa di Iran setiap tahun digelar Musabaqah Tilawatil Quran yang diikuti peserta dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Beberapa tahun lalu, saya pernah tanya sama orang yang pernah ikut di sana (red. Iran). Bagaimana al Quran di sana? Jawabannya sama dengan al Quran yang kita baca,” sebut TGB.

Di akhir video berdurasi 3 menit 34 detik itu, TGB kembali menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan sesama umat Islam dan menepis anggapan bahwa Syiah berada di luar Islam.

“Kalau Syiah itu memang bukan bagian dari Ummat Nabi Muhammad SAW, maka tentu pemerintah Arab Saudi tidak akan mengizinkan mereka menginjak tanah suci. Tapi buktinya setiap tahun hampir seratus ribu jamaah haji kaum Syiah dari Iran, belum lagi dari Iraq, yang dari Yaman, yang dari Lebanon, datang ke tanah suci. Tawaf dengan tawaf yang sama. Bermanasik dengan manasik yang sama, shalat dengan qiblat yang sama, membaca al Quran yang sama, berzikir bertasbih bersholawat dengan sholawat yang sama. Apalagi yang kita perlukan untuk meneguhkan ya keyakinan kita bahwa kita ini satu sama lain adalah saling bersaudara,” tutup TGB.