Mengubah mentalitas dari seorang “siswa yang sekadar mencari nilai rapor” menjadi “calon pengusaha yang mencari solusi bisnis” membutuhkan intervensi yang nyata. Ruang kelas yang kaku dan instruksi satu arah dari atas mimbar tidak akan pernah bisa melahirkan seorang wirausahawan sejati. Oleh karena itu, langkah awal yang kami lakukan adalah merombak total manajemen kolam praktik ikan nila melalui sistem Teaching Factory (TEFA) yang mengadopsi struktur kerja industri secara riil.

Dalam ekosistem baru ini, saya sebagai guru menanggalkan jubah instruktur tunggal dan memosisikan diri sebagai Chief Executive Officer (CEO) atau Penasihat Bisnis. Sementara itu, siswa kelas Agribisnis Perikanan dibagi ke dalam kelompok-kelompok kerja kecil yang memegang tanggung jawab spesifik, layaknya struktur di sebuah perusahaan perikanan profesional. Struktur organisasi TEFA ikan nila ini kami bagi menjadi tiga divisi utama:

  • Divisi Operasional & Produksi: Kelompok siswa ini bertanggung jawab penuh atas manajemen kualitas air, monitoring kesehatan ikan nila, serta presisi pemberian pakan. Mereka wajib memahami bahwa kelalaian sekecil apa pun pada kualitas air akan berdampak langsung pada angka kematian ikan dan kerugian finansial perusahaan.
  • Divisi Finansial & Logistik: Kelompok ini bertugas mengelola arus kas pembukuan. Mereka mencatat setiap butir pakan yang keluar, biaya listrik pompa, hingga menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP). Di sini, matematika bukan lagi sekadar angka di atas kertas ujian, melainkan instrumen hidup untuk menghitung untung dan rugi usaha.
  • Divisi Pemasaran & Hubungan Masyarakat: Kelompok siswa ini menjadi ujung tombak yang berhadapan langsung dengan pasar lokal. Mereka menganalisis tren harga ikan nila di pasar lokal Mataram, menjalin komunikasi dengan para pengepul, hingga memanfaatkan media sosial untuk menjual hasil panen secara langsung kepada konsumen akhir dengan harga terbaik.

Melalui pembagian peran yang nyata ini, atmosfer kolam praktik seketika berubah. Siswa tidak lagi datang ke kolam hanya untuk menggugurkan kewajiban absensi mata pelajaran. Ada rasa kepemilikan (sense of ownership) yang tumbuh karena setiap keputusan yang mereka ambil di dalam divisi masing-masing akan menentukan hidup-matinya usaha ikan nila yang sedang mereka kelola bersama.

Tantangan terbesar berikutnya dalam agribisnis perikanan darat adalah melonjaknya harga pakan pabrikan yang sering kali menghabiskan hingga 60-70 persen dari total biaya produksi. Jika siswa hanya diajarkan membeli pakan karungan komersial tanpa inovasi, mereka akan gulung tika sebelum berkembang. Di sinilah prinsip Blue Economy sebuah konsep ekonomi yang meengutamakan efisiensi, inovasi lokal, dan nihil limbah (Zeero waste) – kami injeksikan ke dalam sistem TEFA sekolah.