LENSA MANDALIKA – Pelatihan dan sertifikasi teknis Plantation Worker di Nusa Tenggara Barat mendapat perhatian langsung dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI/BP2MI).

Hal itu terlihat dari kunjungan Inspektur Jenderal KemenP2MI/BP2MI, Komjen Polisi Mulia Hasudungan Ritonga, dalam rangka monitoring dan evaluasi (Monev) ke lokasi pelatihan yang berlangsung di kebun milik SMKPP Negeri Mataram, Desa Longseran, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Jumat (11/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, jenderal bintang tiga itu melihat secara langsung proses pelatihan teknis yang menjadi bagian dari upaya menyiapkan calon pekerja migran dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan dunia kerja, khususnya pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Monev tersebut menjadi momentum untuk melihat sejauh mana pelatihan berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Evaluasi tidak hanya berkaitan dengan kehadiran dan proses pembelajaran peserta, tetapi juga menyangkut praktik teknis di lapangan.

Mulai dari tahapan pembenihan, persiapan media dan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian gulma dan hama, hingga pemanenan menjadi bagian penting dalam penguasaan kompetensi seorang Plantation Worker.

Komjen Polisi Mulia Hasudungan Ritonga dalam kunjungannya turut didampingi Inspektur II KP2MI Dra. Lismi Elita, MM dan Kepala BP3MI NTB, Kadir, S.Pd.

Kepala SMKPP Negeri Mataram, Sugiarta, membenarkan adanya kunjungan tersebut. Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian dan monitoring yang dilakukan jajaran KemenP2MI/BP2MI.

Ia menilai sinergi antara lembaga pendidikan, BP3MI NTB dan KemenP2MI/BP2MI menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kompetensi calon pekerja migran asal NTB.

“Pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktik secara langsung. Harapannya, peserta benar-benar memiliki kompetensi dan kesiapan ketika nantinya masuk ke dunia kerja,” jelas Sugiarta.

Dijelaskan Sugiarta, pelatihan tersebut merupakan hasil sinergi dengan BP3MI Nusa Tenggara Barat dan diikuti sebanyak 100 orang peserta pada angkatan pertama.

Pelatihan berlangsung selama 15 hari, mulai 1 hingga 15 September 2026. Setelah tahapan pelatihan selesai, peserta akan mengikuti uji sertifikasi yang dijadwalkan berlangsung pada 16 hingga 19 September 2026.

Sugiarta berharap proses pelatihan hingga sertifikasi dapat berjalan lancar dan seluruh peserta mampu memenuhi standar kompetensi yang dipersyaratkan.

“Dengan adanya sertifikasi, peserta memiliki bukti kompetensi yang dapat menjadi modal ketika mereka memasuki dunia kerja, khususnya di sektor perkebunan,” ujarnya.

Sugiarta mengatakan, pelaksanaan pelatihan tersebut juga sejalan dengan semangat mewujudkan NTB Makmur Mendunia, khususnya melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan daya saing.

“Semangat NTB Makmur Mendunia tentu harus kita dukung bersama. Salah satunya melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Sesuai arahan Sekda NTB, kolaborasi lintas sektor harus terus kita bangun, sehingga pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha dan dunia kerja dapat bersinergi dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan memiliki daya saing,” pungkasnya. (Red/lm)