Oleh: Tasman, Guru SMKPP Negeri Mataram
Lensamandalika.com – Aroma khas air kolam dan riak permukaan air yang pecah oleh kibasan ekor ikan-ikan nila (Oreochromis niloticus) selalu menjadi pemandangan akrab setiap pagi di area praktik SMKPP Negeri Mataram. Di Nusa Tenggara Barat, khususnya di wilayah Mataram dan sekitarnya, ikan nila adalah primadona meja makan yang permintaannya tak pernah surut.
Mulai dari warung tenda bakar ikan di pinggir jalan hingga restoran keluarga, nila selalu dicari. Secara teori ekonomi, ini adalah peluang pasar yang sangat besar. Logikanya, mencetak lulusan SMK Agribisnis Perikanan yang siap menguasai pasar ini seharusnya menjadi perkara mudah. Namun, kenyataan di lapangan sering kali menampar kita dengan realitas yang berbeda.
Selama bertahun-tahun, pembelajaran konvensional sukses mengajarkan siswa cara memberi pakan yang presisi, menghitung dosis obat, hingga menguras kolam secara berkala. Siswa kita sangat terampil secara teknis (hard skills). Sayangnya, ada satu dinding tebal yang sering gagal kita tembus, yaitu pembentukan karakter, mentalitas, dan etos kerja sebagai seorang pengusaha sukses (soft skills).
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, tanggung jawab mereka terhadap kolam seolah ikut padam. Saat sekelompok ikan nila mati massal akibat perubahan cuaca mendadak, respons pertama sebagian besar siswa bukanlah mencari solusi bisnis yang taktis, melainkan kepasrahan karena merasa kolam tersebut hanyalah fasilitas milik sekolah, bukan milik mereka sendiri. Paradoks inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi saya sebagai pendidik di era modern.
Menghasilkan lulusan yang sekadar tahu cara memberi makan ikan hanya akan mencetak buruh kolam berupah rendah. Padahal, esensi utama dari pendidikan vokasi adalah melahirkan motor penggerak ekonomi yang mandiri dan adaptif. Berangkat dari kegelisahan tersebut, konsep Teaching Factory (TEFA) yang dikawinkan dengan prinsip Blue Economy hadir sebagai solusi di SMKPP Negeri Mataram. Ini bukan lagi sekadar inovasi metode mengajar, melainkan sebuah transformasi radikal untuk mengubah kolam praktik sekolah menjadi kawah candradimuka yang menempa mentalitas wirausahawan muda bahari yang tangguh.