Lensamandalika.com – Distribusi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Lajut, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah sempat diwarnai perdebatan antara pihak sekolah dan pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Desa Lajut.

Peristiwa tersebut terjadi saat makanan MBG didistribusikan ke sekolah pada Rabu, (4/3/26) lalu. Keraguan terhadap kesesuaian menu dengan porsi serta anggaran program menjadi pemicu munculnya protes dari para guru.

Klarifikasi terkait kejadian itu kemudian disampaikan oleh Kepala SDN 1 Lajut, Suherman. Ia menegaskan bahwa tidak pernah ada penolakan terhadap program MBG. Yang dilakukan pihak sekolah, kata dia, hanyalah meminta penjelasan kepada pengelola dapur mengenai menu yang disajikan.

“Kami mengajak para guru untuk menilai MBG tersebut, apakah harganya sesuai atau tidak. Para guru ragu jika menu MBG tersebut memang seharga itu. Kemudian kami berkonsultasi dengan pihak dapur, dan untuk kemarin kami tidak menolak,” terang Suherman mengutip koranlombok, Kamis (5/3/26).

Setelah komunikasi dilakukan, persoalan tersebut disebut telah diselesaikan. Penjelasan dari pihak dapur telah diterima oleh sekolah, sekaligus disertai dengan teguran dan masukan dari pihak sekolah.

“Alhamdulillah sudah selesai. Mereka juga sudah memberikan penjelasan dan menerima teguran serta saran dari kami,” ungkapnya.

Meski sempat dipertanyakan, makanan MBG yang dikirimkan tetap diterima oleh pihak sekolah dan selanjutnya didistribusikan kepada para siswa.

“Itu bukan ditolak. Kami tetap mengambil dan mendistribusikannya kepada para siswa,” katanya.

Sebelum kejadian itu terjadi, sejumlah menu MBG juga sempat dilaporkan oleh para guru kepada kepala sekolah. Laporan tersebut disampaikan melalui foto menu yang dinilai kurang sebanding dengan anggaran program.

“Sudah beberapa hari para guru menunjukkan menu yang dirasa tidak sesuai dengan anggarannya kepada saya,” ceritanya.

Pihak sekolah menegaskan bahwa komunikasi dengan pengelola dapur akan kembali dilakukan apabila kejadian serupa terulang. Bahkan, kemungkinan penolakan terhadap makanan yang dikirim tidak menutup kemungkinan dilakukan apabila kondisi menu tidak mengalami perbaikan.

Sebagai tindak lanjut dari komunikasi yang telah dilakukan, teguran juga telah diberikan kepada pihak dapur agar menu MBG yang disajikan dapat diperbaiki dan kualitasnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. (red/lm)