Lensamandalika.com – Polemik di media sosial terkait unggahan akun Facebook Saraa Azahra yang dinilai mengandung unsur SARA terus menuai perhatian publik.

Berbagai tanggapan bermunculan, mulai dari kritik hingga seruan untuk menjaga kondusivitas ruang digital. Di tengah situasi tersebut, dukungan terhadap Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal, turut menguat dari sejumlah kalangan masyarakat.

Salah satu yang menyuarakan sikap tersebut adalahKetua Mandalika Hotel Association (MHA), Samsul Bahri.

Sebagai pegiat pariwisata yang aktif mendorong kemajuan sektor wisata daerah, menurutnya penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga etika dalam menyampaikan pendapat di ruang publik, termasuk di media sosial.

Ia menegaskan bahwa pejabat publik, meskipun terbuka terhadap kritik, tetap memiliki hak privasi yang perlu dihormati.

“Pejabat publik juga manusia yang memiliki ruang pribadi. Itu harus tetap kita jaga bersama,” ujarnya, Selasa, (21/4/26).

Dikatakannya, dinamika yang terjadi di ruang digital saat ini menjadi cerminan bagaimana masyarakat memaknai kebebasan berpendapat.

“Kebebasan berekespresi tetap terbuka, namun harus diiringi dengan tanggung jawab sosial agar tidak menimbulkan konflik yang lebih luas, apalagi sampai nyenggol isu SARA, ” terangnya.

Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya ketimuran dalam menyampaikan kritik. Menurutnya, kebebasan berpendapat tidak boleh lepas dari adab, sopan santun, dan penghormatan terhadap sesama.

“Kritik memang sah dalam demokrasi, tetapi harus disampaikan dengan cara yang beradab dan berbudaya, jangan asal senggol kiri kanan,” cetusnya.

Dirinya menekankan, meski Indonesia menganut sistem demokrasi, tidak semua nilai-nilai demokrasi Barat dapat diterapkan secara mentah.

“Budaya lokal yang menjunjung tinggi harmoni, toleransi, dan kebersamaan harusnya tetap menjadi pondasi kehidupan bermasyarakat, termasuk berinteraksi di media sosial,” tegasnya.

Dirinya mengingatkan bahwa sektor pariwisata sangat bergantung pada citra daerah yang aman dan kondusif. Menurutnya, polemik yang berkembang di ruang digital berpotensi berdampak terhadap persepsi wisatawan jika tidak disikapi dengan bijak.

“Daerah kita ini hidup dari pariwisata. Stabilitas sosial dan citra yang positif sangat penting untuk menjaga kepercayaan wisatawan,” bebernya.

Dirinya berharap polemik ini dapat menjadi pembelajaran bersama agar masyarakat semakin bijak dalam menggunakan media sosial, serta mampu menjaga keseimbangan antara kebebasan berpendapat dan tanggung jawab sosial.

“Kritik sah-sah saja, namun harus kita pastikan bersama agar ruang digital tetap sehat, aman, dan inklusif bagi semua kalangan,” pungkasnya. (Red/LM)